Menjadi Nakhoda Pikiran Saat Menaklukkan Rumus Fisika

Redaktur: KOLOM INDONESIA
Oleh : Aswiroh, Mahasiswi S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Surabaya, asal Pademawu, Kabupaten Pamekasan.
Pernah nggak sih, kamu lagi duduk di depan kertas ujian Fisika, udah hafal semua rumusnya, tapi bingung banget mau mulai dari mana? Hal seperti ini sering bikin Fisika kelihatan serem, seperti hantu yang bikin takut. Padahal, tantangan utama belajar Fisika biasanya bukan soal angka-angka yang ribet, tapi gimana caranya kita ngatur pikiran sendiri.
Di psikologi pendidikan, kemampuan buat ngelola dan ngawasin proses berpikir ini disebut metakognisi. Gampangnya, metakognisi itu kondisi di mana kita jadi seperti kapten kapal buat pikiran kita sendiri. Bukan cuma tentang apa yang kita pelajari, tapi lebih ke gimana cara kita belajarnya.
Navigasi Sebelum Berlayar
Seorang nakhoda yang tangguh tidak akan menjalankan kapal tanpa memeriksa peta dan arah angin. Begitu pula dalam menghadapi persoalan Fisika. Strategi metakognisi dimulai dengan tahap perencanaan (planning). Sebelum terburu-buru memasukkan angka ke dalam rumus, langkah pertama yang bijak adalah memahami fenomena di balik soal tersebut.
Kita bisa membiasakan diri untuk bertanya: “Fenomena alam apa yang sedang terjadi di sini?” atau “Informasi apa yang sebenarnya ingin saya cari?”. Dengan melakukan hal ini, kita sedang membangun fondasi pemahaman yang kokoh, sehingga rumus tidak lagi dianggap sebagai mantra ajaib, melainkan alat bantu untuk menjelaskan realitas.
Mengecek Arah di Tengah Samudra
Saat proses pengerjaan soal berlangsung, sering kali kita terjebak dalam rutinitas menghitung tanpa henti. Di sinilah peran metakognisi sebagai pemantau (monitoring) menjadi krusial. Seorang siswa yang bertindak sebagai nakhoda akan sesekali berhenti dan melakukan dialog internal: “Apakah langkah ini logis?” atau “Mengapa saya menggunakan hukum kekekalan energi di sini, bukan hukum Newton?”.
Kesadaran ini sangat membangun karena menjauhkan siswa dari cara belajar yang sekadar mengikuti pola tanpa pemahaman. Jika di tengah jalan kita menyadari ada hasil yang tidak masuk akal seperti nilai kecepatan yang melebihi cahaya atau massa benda yang negatif, kita tidak perlu panik. Itu adalah sinyal navigasi bahwa ada logika yang perlu diperbaiki.
Melihat Kesalahan sebagai Peta Baru
Salah satu poin penting dalam pembelajaran yang konstruktif adalah mengubah cara kita memandang kesalahan. Dalam belajar Fisika yang reflektif, salah hitung atau salah konsep bukanlah sebuah kegagalan yang memalukan. Sebaliknya, itu adalah “data” berharga bagi sang nakhoda untuk mengenali di mana letak celah pemahamannya.
Alih-alih merasa kecil hati, kita bisa mengevaluasi (evaluating): “Di bagian mana saya tadi mulai melesat arah?” atau “Strategi apa yang lebih efektif untuk soal serupa di masa depan?”. Dengan cara ini, belajar Fisika menjadi sebuah proses pengembangan diri yang positif dan tidak intimidatif.
Membangun Budaya Berpikir yang Luas
Kita memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran Fisika dengan mengedepankan strategi metakognisi ini. Fokusnya bukan lagi sekadar pada hasil akhir yang sempurna, melainkan pada proses berpikir yang berkualitas.
Ketika ruang kelas atau meja belajar di rumah menjadi tempat yang nyaman untuk berefleksi, maka Fisika akan kehilangan kesan menakutkan. Ia berubah menjadi laboratorium berpikir yang melatih ketangguhan mental, logika, dan kemandirian.
Pada akhirnya, belajar Fisika dengan strategi metakognisi adalah tentang memberdayakan diri sendiri. Saat seseorang berhasil menjadi nakhoda atas pikirannya, ia tidak hanya akan takluk pada rumus-rumus Fisika, tetapi juga memiliki bekal pola pikir kritis yang akan berguna dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan.


