Berita

 Network

 Partner

Follow Kabarbaru

Get it on Google play store
Download on the Apple app store

Ribuan Penambang Rakyat Poboya Gelar Aksi Besar di Kota Palu, Desak Penciutan Wilayah Konsesi PT CPM

Penambang rakyat dari kawasan Poboya, Kota Palu, turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan lama yang belum terwujud.

Redaktur:

KOLOM PALU – Ribuan penambang rakyat dari kawasan Poboya, Kota Palu, turun ke jalan pada Rabu (28/1/2026) untuk menyuarakan tuntutan lama yang belum terwujud. Mereka mendesak pemerintah agar sebagian lahan konsesi dari PT Citra Palu Minerals (PT CPM) diciutkan dan ditetapkan sebagai Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

Aksi demonstrasi ini merupakan puncak perjuangan bertahun-tahun yang dinilai belum mendapat kepastian hukum. Sehari sebelumnya, pada Selasa malam (27/1/2026), massa penambang telah melakukan pra-kondisi dengan memblokir akses jalan menuju area tambang Poboya. Puluhan truk dan kendaraan pengangkut material diparkir berjajar, sementara ratusan penambang duduk berkelompok di badan jalan, menghentikan total aktivitas tambang.

Baca Juga :  Perusahaan Tambang Pelat Merah Dinilai Wajib Perkuat Perlindungan Lingkungan dan Operasional Bertanggung Jawab

Pantauan di lokasi menunjukkan barisan truk terparkir rapat di jalur tanah berbatu, diterangi lampu kendaraan dan cahaya warung darurat. Kebersamaan dan solidaritas antar-penambang terlihat kuat di tengah malam, mencerminkan denyut kehidupan ribuan keluarga yang bergantung pada tambang rakyat Poboya.

Demonstrasi dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WITA, dengan massa bergerak secara berurutan ke empat titik strategis di Kota Palu: Kantor DPRD Kota Palu, DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, serta Kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Lokasi-lokasi tersebut dipilih sebagai simbol harapan agar wakil rakyat dan aparat negara memberikan perhatian serius terhadap aspirasi penambang.

Baca Juga :  Buntut Tayangan "Mens Rea" Pandji di Netflix, Pemuda NU dan Muhammadiyah Unjuk Rasa Minta Proses Hukum

Tokoh Front Pemuda Kaili (FPK) Sulawesi Tengah, Amir Sidiq, membenarkan aksi tersebut. “Benar, hari ini kami turun aksi. Jumlah massa diperkirakan mencapai 4.000 hingga 5.000 orang, berasal dari berbagai latar belakang seperti sopir truk, operator tromol, buruh angkut, dan pekerja tambang lainnya,” ujar Amir Sidiq saat dikonfirmasi.

Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas penambangan rakyat di Poboya dihentikan sementara demi menyukseskan perjuangan kolektif.

Baca Juga :  Bawa 4 Tuntutan: FUKI Demo KPK Terkait Skandal Korupsi Kuota Haji, Minta Ketua Komisi VIII DPR RI Diperiksa

“Ini bentuk solidaritas kami untuk memperjuangkan hak hidup ribuan keluarga,” tambahnya.

Amir Sidiq juga memberikan sikap tegas bahwa jika tidak ada langkah konkret dari pihak perusahaan dan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini, massa akan kembali turun dengan jumlah yang lebih besar.

“Aksi ini akan terus berjalan sampai tuntutan kami diterima,” tegasnya.

Hingga berita ini disusun, aksi berlangsung damai tanpa gangguan keamanan yang signifikan. Pengawasan ketat dari aparat kepolisian ditempatkan di seluruh titik demonstrasi.

Network

Kolom Indonesia menjadi ruang informasi bagi masyarakat yang ingin melihat fakta secara jernih, berimbang, mendalam dan menyeluruh.

Follow Kolom Indonesia

Get it on Google play store
Download on the Apple app store